Ada serombongan pelajar melakukan tur. Diantaranya terdapat seorang siswa kelas 1 SMU, penumpang bis kedua. Ditengah perjalanan bis kedua mogok, berhentilah bis pertama untuk membantu, ternyata penyebab mogok hal sepele. Para siswa penumpang bis pertama berkata, "Kami akan sampai di tempat lebih dahulu. Ketika itu si murid yang kelas 1 tadi berpesan kepada guru di bis pertama supaya menunggunya, jangan shalat dulu sampai dia dan teman-temannya tiba. Berkali-kali dia telah menyampaikan pesan tersebut kepada sang guru.
Ketika penumpang bis pertama tiba di lokasi, mereka langsung shalat.
Rombongan bis kedua tiba, dan mendapati rombongan bis pertama sudah mengerjakan shalat pada rakaat kedua. Setelah shalat selesai, siswa yang tadi berpesan mendatangi gurunya dengan sedih dan menyesal sambil berkata, "Kenapa kalian shalat lebih dahulu? Padahal aku telah berpesan supaya jangan mulai shalat sebelum kami tiba."
Pesan siswa tersebut tadi tidak dianggap penting oleh sang guru. Siswa tersebut melanjutkan ucapannya, "Wahai Ustadz (guru), mengapa ustadz shalat lebih dahulu sehingga aku tak mendapati takbiratul ihram, padahal aku SUDAH BERTEKAD UNTUK SENANTIASA MENGERJAKAN SHALAT JAMA'AH TANPA KETINGGALAN TAKBIRATUL IHRAM sejak satu setengah tahun lalu. Inilah satu-satunya hari yang AKU TAK SEMPAT MENDAPAT TAKBIRATUL IHRAM."
Allahu Akbar!! Dengan apa dia merasa...?! Apa yang akan dikatakan oleh orang yang sudah berkali-kali ketinggalan rakaat rakaat dalam shalat; berkali kali ketinggalan shalat dan ketinggalan waktunya... bahkan bagaimana bagi mereka yang meninggalkan shalat? Jangankan meninggalkan shalat, meremehkannya saja merupakan sesuatu yang tercela, dalam pepatah dikatakan:
"Siapa yang suka meremehkan, niscaya dia akan menganggap mudah sesuatu
Tidaklah suatu luka akan dirasa sakit
oleh orang yang sudah mati rasa."
Itulah kutipan sepenggal kisah nyata yang terdapat dalam lembaran buku tanda hati yang hidup.. ya itulah tanda hati yang hidup, menyesal karena tertinggal takbiratul ihram, bagaimana dengan kita? Apakah hati kita hidup? Atau ...
Judul: Tanda Hati yang Hidup
Penulis: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd
Penerbit: Tasnim Pub.
Berat: +- 75 gr.
Harga: 8.000
Jual: 7.000